Jalan Tengah Maulid
Oleh: @jonru
Sekarang bukan bulan Rabiul Awal. Kok tumben ngomongin Maulid Nabi?
Hm, ini karena tadi pas shalat Jumat di masjid dekat rumah saya, sang khatib membahas peringatan Maulid.
Ya memang sih, khatib shalat Jumat membahas Maulid sudah sangat sering. Sudah biasa. Namun yang tadi itu SANGAT ISTIMEWA, sehingga saya bela-belain dibahas di fan page ini.
Biasanya nih, Maulid merupakan tema yang sangat sensitif di kalangan umat Islam. Ada yang pro, ada yang kontra. Kedua pihak sering bersiteru, sama-sama merasa paling benar. Dan "pertikaian" pun tak pernah berakhir.
Hal unik dari khutbah tadi siang adalah: Sang khatib berdiri di tengah-tengah. Dia mendukung yang pro, juga mendukung yang kontra. Sebuah sikap yang sangat bijaksana, membuat saya terkesima, dan jatuh simpati padanya.
Berikut poin-poin penting pada khutbah beliau (sayangnya, saya tidak tahu nama Sang Khatib):
1. Rasulullah tidak pernah memerintahkan umat Islam untuk memperingati Maulid, namun juga tidak pernah melarangnya.
2. Peringatan Maulid tidak pernah dilakukan di masa Rasulullah, sehingga memang tidak ada tuntunannya. Saat peringatan Maulid pertama kali diadakan, bertujuan untuk membangkitkan kembali semangat umat islam yang mulai kendor karena kekalahan pada Perang Salib (wallahualam, saya belum mengecek kebenaran info ini).
3. Sayangnya, saat ini banyak umat Islam yang merayakan maulid sebatas seremonial belaka. Sebatas rutinitas belaka.
4. Indikator sukses tidaknya perayaan maulid bukan pada meriahnya acara, bukan pada keberhasilan mengundang ustadz kondang, dst.
Indikator suksesnya acara maulid adalah ketika kita semakin cinta kepada Rasulullah, semakin cinta pada sunnah-sunnahnya, semakin rajin mengamalkan sunah-sunnahnya.
Misalnya: Setelah merayakan maulid, kita yang awalnya tak pernah shalat jamaah di masjid, kini jadi rajin shalat jamaah di masjid.
Rasulullah mengajarkan kita untuk menyantuni anak yatim, minum sambil duduk, berbuat baik pada tetangga, menjenguk orang sakit, dan masih banyak sunnah-sunnah lainnya. Keberhasilan peringatan maulid adalah ketika kita dengan penuh kesadaran dan kecintaan mengamalkan semua sunnah tersebut.
* * *
Sedikit tambahan dari saya:
Dulu saya pernah menulis status tentang Maulid, ditulis dengan cara yang senetral mungkin. Tapi anehnya, banyak saudara-saudara kita yang pro maulid, mendebat saya dengan bahasa yang sangat kasar.
Jika Ada di antara teman-teman sekalian yang juga akan berbuat seperti itu di status ini, maka saya hanya ingin berkata satu hal:
"Anda sangat mendukung Maulid, berarti Anda sangat cinta pada Rasulullah. Anda sangat ingin menjalankan sunnah-sunnahnya. Apakah berkata dan berperilaku kasar merupakan bagian dari akhlak Rasulullah?"
Alangkah tragisnya jika kita rajin memperingati maulid, namun akhlak kita justru sangat jauh dari akhlak Rasulullah.
Mari kita renungkan itu baik-baik, ya.
Mari menjaga persatuan dan ukhuwah umat Islam. Jangan mau diadu-domba oleh mereka yang ingin menghancurkan Islam.
Jakarta, 11 Desember 2015

Tidak ada komentar:
Posting Komentar