coppas.GENGSI, BENTUK LAIN DARI KUFUR NIKMAT
Alhamdulillah! Tak ada yang patut disembah selain Allah Swt. Hanya kepada Allah kita semua akan kembali. Semoga Allah Yang Maha Mendengar setiap doa, senantiasa membimbing kita sehingga kita termasuk kepada golongan hamba-Nya yang bersyukur. Sholawat dan salam semoga selalu terlimpah kepada Rasulullah Saw.
Saudaraku, gengsi adalah penyakit yang menyesakkan dada, membuat hati tertekan, merasa terhimpit, dunia ini terasa sangat sempit. Ada orang yang karena gengsi naik angkot, maka dia memaksakan naik taksi, padahal ia tidak mampu dan memang tidak perlu. Sepanjang jalan ia tidak menikmati jok yang empuk di dalam taksi karena matanya gelisah melihat argo yang terus bertambah.
Ada juga orang yang datang ke sebuah acara mengendarai motor lama. Karena gengsi, ia berusaha datang lebih awal, kemudian mencari tempat parkir yang agak tersembunyi. Ada lagi orang yang memaksakan diri mencicil ponsel baru yang mahal hanya karena gengsi di depan teman-temannya memakai ponsel lama yang dipikirnya sudah ketinggalan zaman.Maa syaa Allah.
Betapa menderita hidup yang demikian. Menuruti keinginan, bukan kebutuhan. Memaksakan diri, tanpa melihat kemampuan. Mengikuti pandangan orang, tanpa memikirkan kebaikan dan keburukan. Semua itu terjadi karena gengsi.
Gengsi itu sama bahayanya dengan ujub dan minder. Semuanya sama-sama perwujudan dari cinta dunia. Gengsi muncul karena hati sudah terpaut dengan dunia, menjadikan dunia sebagai tolak ukur kemuliaan. Padahal yang dikejar kemuliaan di pandangan manusia. Apalah artinya mulia di pandangan manusia, tapi sia-sia di pandangan Allah Swt.
Sahabatku, tidakkah kita ingat pada sabda Rasulullah Saw.,"Demi Allah, bukan kemiskinan yang aku khawatirkan akan menimpa diri kalian. Akan tetapi, aku khawatir jika dunia ini dibentangkan untuk kalian sebagaimana ia dibentangkan untuk orang-orang sebelum kalian sehingga kalian berlomba sebagaimana mereka berlomba, dan akhirnya kalian hancur sebagaimana mereka hancur."(HR. Bukhari dan Muslim)
Tidak perlu kita gengsi memakai motor gara-gara mobil kita dijual. Tidak perlu kita gengsi tinggal di rumah kontrakan. Demi Allah, semua yang ada di dunia ini milik Allah. Yang kita miliki, yang masih kita cicil atau yang kita sewa, semuanya mutlak milik Allah. Semua itu ada di tangan kita hanya titipan saja dan hanya ujian. Tidak perlu gengsi dengan apa yang kita miliki. Gengsi adalah bentuk lain dari kufur nikmat, seolah karunia yang Allah berikan kepada kita tiada berarti.Maa syaa Allah.
Allah Swt. berfirman,"Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia itu hanyalah permainan dan sesuatu yang melalaikan. Dan kehidupan dunia ini tidak lain hanyalah kesenangan yang menipu."(QS. Al Hadiid [57] : 20)
Semoga kita bisa mengendalikan diri dari penyakit gengsi. Pastikan kita memakai dan memiliki atas dasar perlu, bukan sekadar mau. Ikutilah kesederhanaan Rasulullah Saw dan para sahabat serta salafush sholeh. Terlalu cinta pada dunia adalah sumber malapetaka. Semoga kita tergolong orang-orang yang senantiasa mampu bersyukur dan selamat dalam lindunganNYA. Aamiin yaa Robbal aalamiin.
blog ini hanya pendapat pribadi.....mungkin terlalu subyektif tapi itu nyata terjadi yang saya alami...dan beberapa artikel yang tentunya hanya mengcopy paste dari beberapa sumber...karena saya bukan siapa siapa,sedang belajar agama......... thank you so much for visiting my web..wherever you are...baby...
me gif
me gif
28 Mar 2017
SUKSES YANG MENYIKSA DI AKHIR HIDUP.....
coppas.
Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.
_“Dik hendak ke Jogja juga?”_
_“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”_
_“Iya.”_
_“Bapak sendiri?”_
_“Iya.”_ Senyumnya datar. Menghela napas panjang._“Dik kerja dimana?”_
_“Saya serabutan, Pak,”_ sahut saya sekenanya.
_“Serabutan tapi mapan, ya?”_ Ia tersenyum. _“Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”_
Saya tertegun. _“Kok begitu, Pak?”_
Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.
_“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua._
_Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”_
_“Bapak, Bapak yang sabar ya….”_
Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.
Ia tersenyum kecut.
_“Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik..._
_Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki..._
_Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”_
Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat ayah saya.
Spontan saya memeluk Bapak tsb..
Tak sadar menetes airmata..
Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata....
...... *kejadian ini telah menyadarkan aku, bahwa mendidik anak tujuan utamanya harus shaleh bukan kaya. Tanpa kita didikpun rejeki anak sudah dijamin oleh Tuhan, tapi tidak ada jaminan tentang keimanannya, orang tua yg harus berusaha untuk mendidik dan menanamkannya.*
Di pesawat, seusai take off, saya melempar cara pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaan-Nya...
?HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA TAPI KEJAR BERKAHNYA.
Semoga bermanfaat..
Seorang bapak kira-kira usia 65 tahunan duduk sendiri di sebuah lounge bandara Halim Perdana Kusuma, menunggu pesawat yang akan menerbangkannya ke Jogja.
Kami bersebelahan hanya berjarak satu kursi kosong. Beberapa menit kemudian ia menyapa saya.
_“Dik hendak ke Jogja juga?”_
_“Saya ke Blitar via Malang, Pak. Bapak ke Jogja?”_
_“Iya.”_
_“Bapak sendiri?”_
_“Iya.”_ Senyumnya datar. Menghela napas panjang._“Dik kerja dimana?”_
_“Saya serabutan, Pak,”_ sahut saya sekenanya.
_“Serabutan tapi mapan, ya?”_ Ia tersenyum. _“Kalau saya mapan tapi jiwanya serabutan.”_
Saya tertegun. _“Kok begitu, Pak?”_
Ia pun mengisahkan, istrinya telah meninggal setahun lalu. Dia memiliki dua orang anak yang sudah besar-besar. Yang sulung sudah mapan bekerja. Di Amsterdam. Di sebuah perusahaan farmasi terkemuka dunia. Yang bungsu, masih kuliah S2 di USA.
Ketika ia berkisah tentang rumahnya yang mentereng di kawasan elit Pondok Indah Jakarta, yang hanya dihuni olehnya seorang, dikawani seorang satpam, 2 orang pembantu dan seorang sopir pribadinya, ia menyeka airmata di kelopak matanya dengan tisue.
_“Dik jangan sampai mengalami hidup seperti saya ya. Semua yang saya kejar dari masa muda, kini hanyalah kesia-siaan. Tiada guna sama sekali dalam keadaan seperti ini. Saya tak tahu harus berbuat apa lagi. Tapi saya sadar, semua ini akibat kesalahan saya yang selalu memburu duit, duit, dan duit, sampai lalai mendidik anak tentang agama, ibadah, silaturrahmi dan berbakti pada orang tua._
_Hal yang paling menyesakkan dada saya ialah saat istri saya menjelang meninggal dunia karena sakit kanker rahim yang dideritanya, anak kami yang sulung hanya berkirim SMS tak bisa pulang mendampingi akhir hayat mamanya gara-gara harus meeting dengan koleganya dari Swedia. Sibuk. Iya, sibuk sekali…. Sementara anak bungsu saya mengabari via WA bahwa ia sedang mid - test di kampusnya sehingga tidak bisa pulang...”_
_“Bapak, Bapak yang sabar ya….”_
Tidak ada kalimat lain yang bisa saya ucapkan selain itu.
Ia tersenyum kecut.
_“Sabar sudah saya jadikan lautan terdalam dan terluas untuk membuang segala sesal saya dik..._
_Meski telat, saya telah menginsafi satu hal yang paling berharga dalam hidup manusia, yakni sangkan paraning dumadi. Bukan materi sebanyak apa pun. Tetapi, dari mana dan hendak ke mana kita akhirnya. Saya yakin, hanya dari Allah dan kepada-Nya kita kembali. Di luar itu, semua semu. Tidak hakiki..._
_Adik bisa menjadikan saya contoh kegagalan hidup manusia yang merana di masa tuanya….”_
Ia mengelus bahu saya –saya tiba-tiba teringat ayah saya.
Spontan saya memeluk Bapak tsb..
Tak sadar menetes airmata..
Bapak tua tersebut juga meneteskan airmata....
...... *kejadian ini telah menyadarkan aku, bahwa mendidik anak tujuan utamanya harus shaleh bukan kaya. Tanpa kita didikpun rejeki anak sudah dijamin oleh Tuhan, tapi tidak ada jaminan tentang keimanannya, orang tua yg harus berusaha untuk mendidik dan menanamkannya.*
Di pesawat, seusai take off, saya melempar cara pandangan ke luar jendela, ke kabut-kabut yang berserak bergulung-gulung, terasa diri begitu kecil lemah tak berdaya di hadapan kekuasaan-Nya...
?HIDUP ITU SEDERHANA SAJA. MENCARI REZEKI JANGAN MENGEJAR JUMLAHNYA TAPI KEJAR BERKAHNYA.
Semoga bermanfaat..
ANAK KECIL MENUNDUKKAN ULAMA SOMBONG
Kisah Anak Kecil Yang Menumbangkan Ulama Sombong dan Tersesat (Imam Abu Hanifah)
Di masa Imam Abu Hanifah masik kecil,sekitar umur 7 tahun,terdapatlah seorang ulama yang yang memiliki ilmu luas dan tiada bandingannya pada waktu itu namanya Dahriyyah.
Seluruh ulama pada waktu itu tak mampu menandinginya disaat berdebat,terutama dalam bab tauhid,oleh karena dialah yang merasa pintar,
maka muncullah sifat kesombongannya bahkan na’udzubillah akhirnya ia berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada,sayangnya para ulamapun tak mampu mengalahkan dia dalam berdebat,
lalu pada suatu pagi dikumpulkanlah para ulama disuatu majlis milik Syaikh Himad guru Imam Abu Hanifah,dan hari itu Abu Hanifah yang masih kecil hadir dimajlis itu. Maka Dahriyyah naik kemimbar dan berkata dengan sombongnya.
Dahriyah : Siapakah diantara kalian hai para ulama yang akan sanggup menjawab pertanyaanku?
Sejenak suasana hening,para ulama semua diam,namun tiba-tiba berdirilah Abu Hanifah dan berkata,
Abu Hanifah : Omongan apa ini ? maka barang siapa tahu pasti ia akan menjawab pertanyaanmu.
Dahriyyah : Siapa kamu hai anak ingusan,berani kamu bicara denganku,tidakkah kamu tahu,bahwa banyak yang berumur tua,bersorban besar,para pejabat,para pemilik jubah kebesaran mereka semua kalah dan diam dari pertanyaanku,kamu masih ingusan dan kecil badan berani menantangku!
Abu Hanifah : Allah tidak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat,dan para pembesar,tetapi kemuliaan hanya diberikan kepada al-ulama.
Dahriyah : Apakah kamu akan menjawab pertanyanku?
Abu Hanifah : Ya aku akan menjawab pertanyaanmu dengan taufiq Allah.
Dahriyyah : Apakah Allah itu ada?
Abu Hanifah : Ya ada
Dahriyyah : Dimana Dia?
Abu Hanifah : Dia,tiada tempat bagi Dia
Dahriyyah : Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tak punya tempat?
Abu Hanifah : Dalilnya ada dibadan kamu yaitu ruh, saya tanya, kalau kamu yakin ruh itu ada,maka dimana tempatnya? Dikepalamu,diperutmu atau dikakimu?
Dahriah diam seribu basa dengan muka malu. Lalu Abu Hanifah minta air susu pada gurunya Syaikh Himad,dan ia bertanya pada Dahriyyah
Abu Hanifah : Apakah kamu yakin didalam susu ini ada manis?
Dahriyyah : Ya saya yakin disusu itu ada manis
Abu Hanifah : Kalau kamu yakin ada manisnya,saya tanya apakah manisnya ada di bawah,atau ditengah,atau di atas?
lagi lagi Dahriyyah diam dengan rasa malu,lalu abu hanifah menjelaskan : seperti ruh atau manis yang tidak memiliki tempat,maka seperti itu pula tidak akan ditemukan bagi Allah tempat di alam ini baik di arsy atau dunia ini. Lalu Dahriyyah bertanya lagi.
Dahriyyah : Sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?
Abu Hanifah : Tidak ada apa-apa sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa.
Dahriyyah : Bagaimana bisa dijelaskan bila sebelum dan sesudahnya tak ada apa-apa?
Abu Hanifah : Dalilnya ada di jari tangan kamu,apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah kamu akan bisa menerangkan jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi hak Alloh.
Lagi-lagi Dahriyyah dipermalukan,lalu ia berkata,
Dahriyyah : Satu lagi pertanyaanku yaitu,apa perbuatan Allah sekarang ini?
Abu Hanifah : Kamu telah membalikan fakta, seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar dan yang di tanya di atas mimbar. Akhirnya Dahriyyah turun dari mimbar dan Abu Hanifah naik ke atas mimbar.
Dahriyyah : Apa perbuatan Allah sekarang?
Abu Hanifah : Perbuatan Allah sekarang adalah menjatuhkan orang yang tersesat seperti kamu kebawah jurang neraka dan menaikan yang benar seperti aku keatas mimbar keagungan.
Maha suci Alloh yang telah menyelamatka Aqidah ahli sunnah wal jamaah melalui anak kecil.
Sumber : Kitab Fathul Majid karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi Asy Syafi’i coppas
Di masa Imam Abu Hanifah masik kecil,sekitar umur 7 tahun,terdapatlah seorang ulama yang yang memiliki ilmu luas dan tiada bandingannya pada waktu itu namanya Dahriyyah.
Seluruh ulama pada waktu itu tak mampu menandinginya disaat berdebat,terutama dalam bab tauhid,oleh karena dialah yang merasa pintar,
maka muncullah sifat kesombongannya bahkan na’udzubillah akhirnya ia berani mengatakan bahwa Allah itu tidak ada,sayangnya para ulamapun tak mampu mengalahkan dia dalam berdebat,
lalu pada suatu pagi dikumpulkanlah para ulama disuatu majlis milik Syaikh Himad guru Imam Abu Hanifah,dan hari itu Abu Hanifah yang masih kecil hadir dimajlis itu. Maka Dahriyyah naik kemimbar dan berkata dengan sombongnya.
Dahriyah : Siapakah diantara kalian hai para ulama yang akan sanggup menjawab pertanyaanku?
Sejenak suasana hening,para ulama semua diam,namun tiba-tiba berdirilah Abu Hanifah dan berkata,
Abu Hanifah : Omongan apa ini ? maka barang siapa tahu pasti ia akan menjawab pertanyaanmu.
Dahriyyah : Siapa kamu hai anak ingusan,berani kamu bicara denganku,tidakkah kamu tahu,bahwa banyak yang berumur tua,bersorban besar,para pejabat,para pemilik jubah kebesaran mereka semua kalah dan diam dari pertanyaanku,kamu masih ingusan dan kecil badan berani menantangku!
Abu Hanifah : Allah tidak menyimpan kemuliaan dan keagungan kepada pemilik sorban yang besar dan para pejabat,dan para pembesar,tetapi kemuliaan hanya diberikan kepada al-ulama.
Dahriyah : Apakah kamu akan menjawab pertanyanku?
Abu Hanifah : Ya aku akan menjawab pertanyaanmu dengan taufiq Allah.
Dahriyyah : Apakah Allah itu ada?
Abu Hanifah : Ya ada
Dahriyyah : Dimana Dia?
Abu Hanifah : Dia,tiada tempat bagi Dia
Dahriyyah : Bagaimana bisa disebut ada bila Dia tak punya tempat?
Abu Hanifah : Dalilnya ada dibadan kamu yaitu ruh, saya tanya, kalau kamu yakin ruh itu ada,maka dimana tempatnya? Dikepalamu,diperutmu atau dikakimu?
Dahriah diam seribu basa dengan muka malu. Lalu Abu Hanifah minta air susu pada gurunya Syaikh Himad,dan ia bertanya pada Dahriyyah
Abu Hanifah : Apakah kamu yakin didalam susu ini ada manis?
Dahriyyah : Ya saya yakin disusu itu ada manis
Abu Hanifah : Kalau kamu yakin ada manisnya,saya tanya apakah manisnya ada di bawah,atau ditengah,atau di atas?
lagi lagi Dahriyyah diam dengan rasa malu,lalu abu hanifah menjelaskan : seperti ruh atau manis yang tidak memiliki tempat,maka seperti itu pula tidak akan ditemukan bagi Allah tempat di alam ini baik di arsy atau dunia ini. Lalu Dahriyyah bertanya lagi.
Dahriyyah : Sebelum Allah itu apa dan setelah Allah itu apa?
Abu Hanifah : Tidak ada apa-apa sebelum Allah dan sesudahnya tidak ada apa-apa.
Dahriyyah : Bagaimana bisa dijelaskan bila sebelum dan sesudahnya tak ada apa-apa?
Abu Hanifah : Dalilnya ada di jari tangan kamu,apakah sebelum jempol dan apakah setelah kelingking? Dan apakah kamu akan bisa menerangkan jempol duluan atau kelingking duluan? Demikianlah sifat Allah. Ada sebelum semuanya ada dan tetap ada bila semua tiada. Itulah makna kalimat Ada bagi hak Alloh.
Lagi-lagi Dahriyyah dipermalukan,lalu ia berkata,
Dahriyyah : Satu lagi pertanyaanku yaitu,apa perbuatan Allah sekarang ini?
Abu Hanifah : Kamu telah membalikan fakta, seharusnya yang bertanya itu di bawah mimbar dan yang di tanya di atas mimbar. Akhirnya Dahriyyah turun dari mimbar dan Abu Hanifah naik ke atas mimbar.
Dahriyyah : Apa perbuatan Allah sekarang?
Abu Hanifah : Perbuatan Allah sekarang adalah menjatuhkan orang yang tersesat seperti kamu kebawah jurang neraka dan menaikan yang benar seperti aku keatas mimbar keagungan.
Maha suci Alloh yang telah menyelamatka Aqidah ahli sunnah wal jamaah melalui anak kecil.
Sumber : Kitab Fathul Majid karya Syekh Muhammad Nawawi bin Umar Al Jawi Asy Syafi’i coppas
POLITIK DAN AGAMA
*POLITIK ADALAH BAGIAN BANGUNAN ISLAM, BUKAN ISLAM BAGIAN DARI
POLITIK*
_*(Koreksi atas pemikiran yang ingin memisahkan antara POLITIK/Negara
dengan AGAMA)*_
Oleh: Goezoer II @goezoer twit
_Islam dan Politik seperti orang tua dan anak, tidak dapat dipisahkan.
Eksistensi politik sudah terlihat dalam sejarah perjuangan para
sahabat, dimana terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwasanya agama
Islam memang memiliki otoritas terhadap politik. Bukti-bukti itu dapat
dilihat pada saat mereka mengangkat khalifah (Kepala Negara pengganti
Rasulullah SAW)._
_Dalam mengangkat seorang khalifah, para sahabat memberikan syarat
kepada khalifah agar memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah, karena
mendasarkan pada pertimbangan yang terbaik. Apalagi dalam konteks
mengangkat PEMIMPIN, karena berhubungan dengan sesuatu yang sangat
prinsip berkaitan dengan perilaku seorang pejabat dalam 'memimpin dan
dipimpin', maka politik saat itu menjadi sangat penting._
_Namun disayangkan, banyak masyarakat yang berpandangan negatif n
sempit, yang menganggap politik hanya berbau kelicikan, kebusukan,
serta pandangan negatif lainnya. Walaupun memang harus diakui, ada
sebagian penguasa (muslim) yang tidak konsisten menjalankan kebijakan
politiknya diatas ketentuan hukum dan etika syariat. Akibatnya, mereka
menetapkan peraturan yang menyimpang dari ajaran Islam. Maka banyak
orang yang beragama Islam tidak sepakat dengan adanya politik dalam
Islam._
_Padahal, sebagai umat muslim yang cerdas dan kaffah seharusnya bisa
memahami pentingnya politik karena dapat menjadi landasan munculnya
aktivitas gerakan Islam baik secara kultural maupun struktural. Secara
kultural akan terfokus pada proses dakwah di suatu tempat/negara agar
tetap sesuai dengan ajaran Allah SWT, sedangkan secara struktural
dapat mempengaruhi dibatalkannya atau direvisinya kebijakan-kebijakan
pemerintah yang akan membawa kerugian terhadap masyarakat, khususnya
muslim._
_Politik tidak juga dipahami secara parsial hanya sebatas pada
'Kekuasaan dan Kebijakan' - *Power and Policy*, tetapi politik harus
memegang teguh beberapa prinsip seperti; *mewujudkan persatuan dan
kesatuan bermusyawarah, menjalankan amanah, dan menetapkan hukum
secara adil atau dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT*.
Politik juga harus kokoh, dengan prinsip yang benar dan tidak hanyut
dengan gaya perpolitikan yang menghalalkan segala cara, sebab korelasi
pengertian Politik Islam dengan politik menghalalkan segala cara
merupakan dua hal yang sangat bertentangan._
*POLITIK ISLAM*
_Islam adalah *'Aqidah Ruhiyah dan Siyasiyah* - Spiritual dan
Politik'. Kesadaran ini harus ditanamkan sampai benar-benar membekas
dalam kehidupan setiap muslim. Oleh karena itu harus senantiasa
mengkaitkan aqidah dengan pemikiran-pemikiran tentang keduniaan dengan
berbagai persoalannya, juga mengkaitkan keimanan kepada Allah dengan
keimanan kepada Al Qur’an dan segala isinya, *di semua tempat dan
disetiap waktu*._
_Kemudian setelah itu, beralih kepada upaya untuk merubah pandangan
hidup dengan suatu pandangan hidup yang dibangun di atas aqidah
tersebut. Hal ini berarti beralihnya standar kehidupan kepada halal
dan haram, bukan azas manfaat ataupun yang lainnya, apalagi dengan
tujuan yang dilandasi oleh syahwat kekuasaan semata. Selanjutnya
berupaya untuk mengatur seluruh aspek kehidupannya di dunia ini sesuai
dengan standar halal-haram tersebut._
_Kerangka pandang politik dalam Islam ini bersifat tetap dan pasti
yang berlaku bagi kaum muslimin sampai hari kiamat nanti. Oleh karena
itu menjadi suatu keharusan bagi kaum muslimin untuk menjadikan
*Aqidah Islam sebagi cara pandang* untuk memelihara dan mengurusi
segala urusan hidupnya - *POLITICS MAKERS*, termasuk dalam konteks
kenegaraan. Kesadaran inilah yang harus ditumbuhkan pada kaum muslimin
saat ini. Bahkan menjadi suatu hal yang *’Fundamental'* mengingat bila
kaum muslimin meninggalkan persoalan ini, maka mereka akan berdosa.
Sebagaimana dosa-dosa mereka karena meninggalkan kewajiban yang lain._
_*POLITIK..adalah bagian dari Islam, sebagai salah satu Manhaj Islam
'SIYASIYAH' yang merupakan pilar/Al Binaa dalam bangunan Islam yang
saling mengokokohkan diantara bagian yang lain, Fondasi/Al Azaz maupun
Atap/Al Mu'ayyadah*_
*_Berpolitik itu HALAL..bahkan memiliki pengaruh besar dalam
mempertahankan ajaran Islam di suatu negara._*
_"JIKA SEORANG MUSLIM MASIH MEMISAHKAN ISLAM DENGAN POLITIK, MEMBATASI
RUANG LINGKUP POLITIK ISLAM, MAKA DAPAT DIPASTIKAN DIA...
*SEKULERIS"*_
POLITIK*
_*(Koreksi atas pemikiran yang ingin memisahkan antara POLITIK/Negara
dengan AGAMA)*_
Oleh: Goezoer II @goezoer twit
_Islam dan Politik seperti orang tua dan anak, tidak dapat dipisahkan.
Eksistensi politik sudah terlihat dalam sejarah perjuangan para
sahabat, dimana terdapat bukti-bukti yang menunjukkan bahwasanya agama
Islam memang memiliki otoritas terhadap politik. Bukti-bukti itu dapat
dilihat pada saat mereka mengangkat khalifah (Kepala Negara pengganti
Rasulullah SAW)._
_Dalam mengangkat seorang khalifah, para sahabat memberikan syarat
kepada khalifah agar memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah, karena
mendasarkan pada pertimbangan yang terbaik. Apalagi dalam konteks
mengangkat PEMIMPIN, karena berhubungan dengan sesuatu yang sangat
prinsip berkaitan dengan perilaku seorang pejabat dalam 'memimpin dan
dipimpin', maka politik saat itu menjadi sangat penting._
_Namun disayangkan, banyak masyarakat yang berpandangan negatif n
sempit, yang menganggap politik hanya berbau kelicikan, kebusukan,
serta pandangan negatif lainnya. Walaupun memang harus diakui, ada
sebagian penguasa (muslim) yang tidak konsisten menjalankan kebijakan
politiknya diatas ketentuan hukum dan etika syariat. Akibatnya, mereka
menetapkan peraturan yang menyimpang dari ajaran Islam. Maka banyak
orang yang beragama Islam tidak sepakat dengan adanya politik dalam
Islam._
_Padahal, sebagai umat muslim yang cerdas dan kaffah seharusnya bisa
memahami pentingnya politik karena dapat menjadi landasan munculnya
aktivitas gerakan Islam baik secara kultural maupun struktural. Secara
kultural akan terfokus pada proses dakwah di suatu tempat/negara agar
tetap sesuai dengan ajaran Allah SWT, sedangkan secara struktural
dapat mempengaruhi dibatalkannya atau direvisinya kebijakan-kebijakan
pemerintah yang akan membawa kerugian terhadap masyarakat, khususnya
muslim._
_Politik tidak juga dipahami secara parsial hanya sebatas pada
'Kekuasaan dan Kebijakan' - *Power and Policy*, tetapi politik harus
memegang teguh beberapa prinsip seperti; *mewujudkan persatuan dan
kesatuan bermusyawarah, menjalankan amanah, dan menetapkan hukum
secara adil atau dapat dipertanggungjawabkan dihadapan Allah SWT*.
Politik juga harus kokoh, dengan prinsip yang benar dan tidak hanyut
dengan gaya perpolitikan yang menghalalkan segala cara, sebab korelasi
pengertian Politik Islam dengan politik menghalalkan segala cara
merupakan dua hal yang sangat bertentangan._
*POLITIK ISLAM*
_Islam adalah *'Aqidah Ruhiyah dan Siyasiyah* - Spiritual dan
Politik'. Kesadaran ini harus ditanamkan sampai benar-benar membekas
dalam kehidupan setiap muslim. Oleh karena itu harus senantiasa
mengkaitkan aqidah dengan pemikiran-pemikiran tentang keduniaan dengan
berbagai persoalannya, juga mengkaitkan keimanan kepada Allah dengan
keimanan kepada Al Qur’an dan segala isinya, *di semua tempat dan
disetiap waktu*._
_Kemudian setelah itu, beralih kepada upaya untuk merubah pandangan
hidup dengan suatu pandangan hidup yang dibangun di atas aqidah
tersebut. Hal ini berarti beralihnya standar kehidupan kepada halal
dan haram, bukan azas manfaat ataupun yang lainnya, apalagi dengan
tujuan yang dilandasi oleh syahwat kekuasaan semata. Selanjutnya
berupaya untuk mengatur seluruh aspek kehidupannya di dunia ini sesuai
dengan standar halal-haram tersebut._
_Kerangka pandang politik dalam Islam ini bersifat tetap dan pasti
yang berlaku bagi kaum muslimin sampai hari kiamat nanti. Oleh karena
itu menjadi suatu keharusan bagi kaum muslimin untuk menjadikan
*Aqidah Islam sebagi cara pandang* untuk memelihara dan mengurusi
segala urusan hidupnya - *POLITICS MAKERS*, termasuk dalam konteks
kenegaraan. Kesadaran inilah yang harus ditumbuhkan pada kaum muslimin
saat ini. Bahkan menjadi suatu hal yang *’Fundamental'* mengingat bila
kaum muslimin meninggalkan persoalan ini, maka mereka akan berdosa.
Sebagaimana dosa-dosa mereka karena meninggalkan kewajiban yang lain._
_*POLITIK..adalah bagian dari Islam, sebagai salah satu Manhaj Islam
'SIYASIYAH' yang merupakan pilar/Al Binaa dalam bangunan Islam yang
saling mengokokohkan diantara bagian yang lain, Fondasi/Al Azaz maupun
Atap/Al Mu'ayyadah*_
*_Berpolitik itu HALAL..bahkan memiliki pengaruh besar dalam
mempertahankan ajaran Islam di suatu negara._*
_"JIKA SEORANG MUSLIM MASIH MEMISAHKAN ISLAM DENGAN POLITIK, MEMBATASI
RUANG LINGKUP POLITIK ISLAM, MAKA DAPAT DIPASTIKAN DIA...
*SEKULERIS"*_
5 Mar 2017
Langganan:
Postingan (Atom)

