1. seringkali kita suka menyalahkan orang lain, karena kemalasan kita | kitanya yang enggan untuk taat, tapi orang lain yang disalahkan
2. kitanya sendiri yang belum siap untuk menutup aurat | tapi kita sampaikan "itu ustadz ekstrim, males aku sama dia"
3. kita sendiri yang masih nyaman mengumbar aurat | tapi kita katakan "Allah yang lebih tahu isi hatiku kayak apa"
4. kitanya sendiri yang malas shalat dan taat | tapi kita bilang "yang shalat aja korup, yang taat juga banyak dosa"
5. kitanya sendiri yang belum bisa sempurna dalam ketaatan | pas dinasihati, malah mengamuk, tak terima, marah
6. kita tak mau belajar agama, tapi pintar menilai yang belajar agama | kita tak pernah pahami agama, tapi menentukan "ini benar, ini salah"
7. akhirnya karena kemalasan dan maksiat kita | kita membenarkan pendapat yang cocok dengan kita
8. kita bekerja di bidang ribawi, ada yang menyampaikan riba itu haram | kita cap, kita ejek, kita maki, "itu ustadz ajarannya ekstrim"
9. kita masih umbar aurat, ada yang sampaikan hijab itu wajib | kita marah, "eh, bicara yang sopan ya, jangan sok tahu, ini urusan saya"
10. bila sudah tak suka, kita rendahkan orangnya, kita cela dia | fitnah dia apapun caranya, kita pikir kita jadi benar dengan menyalahkan
11. kita lupa kita bisa merendahkan orang, kita bisa menyalahkannya | tapi kebenaran tetap kebenaran, tidak pudar sebetapapun gelapnya
12. haramnya riba tak jadi batal sebab segudang alasan kita | hijab tak batal wajib, hanya karena kita merasa "yang penting hatinya baik"
13. kebenaran akan menemukan jalannya, apapun caranya | kemaksiatan akan ada balasannya, apapun keadaannya sekarang
14. kita lupa, nasihat itu bisa menghindarkan kita dari sengsara di depan | walau pahit sekarang, walau sulit dan payah diterima saat ini
15. dan kita lupa, bahwa mereka menyampaikan kebenaran bukan pilihannya | tapi karena kewajiban dari Allah, karena sayangnya pada manusia
16. benar para penyampai kebenaran tak selalu tepat, tak sempurna | tapi setidaknya mereka berusaha memahami kebenaran, dan menyampaikannya
17. tapi memang selalu ada cara untuk menyalahkan, sebab kita tak mau disalahkan | subhanallah, semoga jiwa kita lembut pada kebenaran coppas ustad felix siauw
blog ini hanya pendapat pribadi.....mungkin terlalu subyektif tapi itu nyata terjadi yang saya alami...dan beberapa artikel yang tentunya hanya mengcopy paste dari beberapa sumber...karena saya bukan siapa siapa,sedang belajar agama......... thank you so much for visiting my web..wherever you are...baby...
me gif
me gif
Tampilkan postingan dengan label kita. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label kita. Tampilkan semua postingan
9 Jan 2016
18 Des 2015
SAAT KITA ........................
* SAAT kita berusia 1 tahun, orang tua memandikan dan merawat kita. Sebagai balasannya, kita malah menangis di tengah malam.
* Saat kita berusia 2 tahun, orang tua mengajari kita berjalan. Sebagai balasan, kita malah kabur ketika orang tua memanggil kita.
* Saat kita berusia 3 tahun, orang tua memasakkan makanan kesukaan kita. Sebagai balasan, kita malah menumpahkannya.
* Saat kita berusia 4 tahun, orang tua memberi kita pensil warna. Sebagai balasannya kita malah mencoret-coret dinding.
* Saat kita berusia 5 tahun, orang tua membelikan baju yang bagus-bagus. Tetapi malah kita mengotorinya dengan bermain-main di lumpur.
* Saat kita berusia 10 tahun, orang tua membayar mahal-mahal uang les dan sekolah kita. Sebagai balasan kita malah malas-malasan bolos.
* Saat kita berusia 11 tahun, orang tua mengantarkan kita ke mana-mana. Sebagai balasan kita tidak mengucapkan salam ketika keluar rumah.
* Saat kita berusia 12 tahun, orang tua mengizinkan menonton di bioskop dan acara lain di luar rumah bersama teman-teman kita. Sebagai balasan kita malah meminta orang tua duduk di barisan lain, terpisah dari kita dan teman-teman kita.
* Saat kita berusia 13 tahun, orang tua membayar uang kemah, uang pramuka dan uang liburan kita. Sebagai balasan kita malah tidak memberinya khabar ketika kita berada di luar rumah.
* Saat kita berusia 14 tahun, orang tua pulang kerja dan ingin memeluk kita. Sebagai balasan, kita malah menolak dan mengeluh, “Papa, Mama, aku sudah besar!”
* Saat kita berusia 17 tahun, orang tua sedang menunggu telepon yang penting, sementara kita malah asyik menelepon teman-teman kita yang sama sekali tidak penting.
Laporkan iklan?
* Saat kita berusia 18 tahun, orang tua menangis terharu ketika kita lulus SMA. Sebagai balasan kita malah berpesta semalaman dan baru pulang keesokkan harinya.
* Saat kita berusia 19 tahuin, orang tua membayar biaya kuliah kita dan mengantar kita ke kampus pada hari pertama. Sebagai balasan, kita malah meminta mereka berhenti jauh-jauh dari gerbang kampus dan menghardik, “Papa, Mama, aku malu! Aku ‘kan sudah gede!”
* Saat kita berusia 22 tahun, orang tua memeluk kita dengan haru ketika kita di wisuda. Sebagai balasan, kita malah bertanya kepadanya, “Papa, Mama, mana hadiahnya? Katanya mau membelikan aku ini dan itu?”
* Saat kita berusia 23 tahun, orang tua memebelikan kita sebuah barang yang kita idam2kan. Sebagai balasan, kita malah mencela, “Duh! kalau mau beli apa-apa, untuk aku, bilang-bilang dong! aku kan nggak suka model seperti ini!”
* Saat kita berusia 29 tahun, orang tua membantu membiayai pernikahan kita. Sebagai balasan, kita malah pindah keluar kota, meninggalkan mereka, dan menghubungi mereka hanya dua kali setahun.
* Saat kita berusia 30 tahun, orang tua memberi tahu kita bagaimana cara merawat bayi. Sebagai balasan, kita malah berkata, “Papa, Mama, zaman sekarang sudaha beda. Nggak perlu lagi cara-cara seperti dulu.”
* Saat kita berusia 40 tahun, orang tua sakit-sakitan dan membutuhkan perawatan. Sebagai balasan, kita malah beralasan, “Papa, Mama, aku sudah berkeluarga. Aku punya tanggung jawab terhadap keluargaku.”
* Dan entah kata-kata apalagi yang pernah kita ucapkan kepada orang tua kita. []
Sumber: youtube, facebook, dan beberapa blog. Tulisan ini tersebar secara viral di internet, sehingga kami tidak bisa mencantumkan penulis pertamanya.
Langganan:
Postingan (Atom)

