Blogger Widgets

me gif

me gif
me gif
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KISAH. Tampilkan semua postingan

9 Agu 2016

ADA KISAH............

Ada kisah yang menceritakan seekor burung pipit di zaman Nabi Ibrahim AS. Tatkala kekasih Allah itu dibakar oleh Namrudz yang kejam, burung kecil ini berusaha melakukan sesuatu dan tidak tinggal diam.
Dia angkut air dengan paruhnya yang kecil untuk memadamkan kobaran api besar yang disulut raja lalim.
Berulang-alik dia mengangkut air, dan pasti, usaha itu tidak memadamkan api yang sangat besar.
Burung-burung lain bertanya pada pipit kecil, mengapa dia melalukan itu? Tak berguna dan tidak memberi hasil. Begitu kata mereka. Tapi burung pipit kecil memberikan jawaban yang sangat luar biasa.
"Mungkin air yang kubawa tidak akan memadamkan api di bawah sana. Tapi jika nanti Allah bertanya, maka aku bisa memberikan jawaban, dan sbg bukti dimana aku berpihak. Bahwa aku tidak tinggal diam. Aku telah melakukan sesuatu!"
Jangan berdiam diri, ambil bagian dalam dakwah dan perjuangan. Besar kecil tak jadi soal. Sebab Allah yang menilai dan memandang.
Sahabat Bilal bin Rabbah RA, ketika Sayyidina Abubakar mengumumkan akan mengumpulkan Al Quran, beliau mengambil bagian yang sering dianggap ringan dalam sejarah.
Beliau pergi dan berjalan ke tempat-tempat yang jauh, membawa kabar dan pengumuman. Menyeru kepada semua kaum Muslimin yang menghafal Al Quran untuk datang ke Masjid Nabi, untuk dikumpulkan dan dibukukan.
Maka jika kini kita membaca Al Quran, sungguh Sahabat Bilal RA akan mendapatkan pahala yang mengalir dari usaha yang beliau lakukan. 
Beliau mengambil peran dari sebuah perjalanan dan proses sejarah yang besar. 
Tidak tinggal diam.
Sahabat Ammar bin Yassir juga punya peran yang sangat unik. Saat pembangunan Masjid Nabawi, beliau sangat semangat sekali.
Diangkutnya batu di pundak kiri dan kanan. Berkali-kali beliau ulang alik memanggul batu, sampai keruntuhan.
Dan membuat khawatir Rasulullah dan semua sahabat yang lain. Mereka bertanya, mengapa membawa batu tak satu-satu? mengapa harus membawa beban di kiri dan kanan?
Lalu Sahabat Ammar memberikan jawaban, "Aku membawa dua. Yang satu untukku sendiri. Dan yang satu lagi, aku hadiahkan untuk Rasulullah Junjungan."
Allahu Akbar.
Agama ini dibawa dan didukung oleh manusia-manusia yang mengambil peran.
Manusia-manusia yang bekerja dan tidak tinggal diam. Manusia-manusia yang maju dan bergerak mengusung dakwah dengan segala dan berbagai kemampuan.
Dengan tenaga, dengan pikirannya, dengan hartanya, dengan kemampuannya, dengan doanya, dengan waktu, bahkan keterampilannya.
Sekarang giliran kita untuk mengambil peran, untuk kebaikan.
*Jangan tinggal diam!*
Semoga bermanfaat??

21 Feb 2016

KISAH ULAMA..........


Assalamu’alaikum Wr. Wb
Saudara-saudara kaum muslimin rahimakumullah sesungguhnya gaya hidup seseorang sangat ditentukan oleh cara bagaimana dia memandang hidup ini, dengan kata lain bagaimana seseorang memandang hidup begitulah ia akan hidup. Oleh sebab itu untuk mengubah keadaan seseorang harus diawali lebih dahulu dengan mengubah caranya memandang kehidupan ini. Itulah sebabnya dalam surat-Nya Ar Ra’du ayat 11, Allah SWT menjelaskan yang artinya “Allah SWT tidak akan mengubah nasib dan keadaan suatu kaum sampai kaum itu berusaha mengubah apa yang ada di dalam diri mereka sendiri. Yang ada di dalam diri itu sendiri tentu tidak lain adalah “rule of thinking” bahasa kerennya, “set of mind” kata orang kulon. Cara berpikir, cara memandang kehidupan yang akan sangat mewarnai cara orang menjalani kehidupan itu sendiri. Oleh karena itu pada ceramah kali ini kita akan membicarakan tentang “dasar dan tujuan hidup dari seorang Muslim di dalam kehidupan ini”.
Yang pertama, tentang dasar dan landasan hidup seorang Muslim tak dapat lain mendasarkan kehidupannya dengan Islam. Di dalam mendasari kehidupan dengan Islam ini Allah SWT menuntun yang artinya “Hai orang-orang yang beriman masuklah kamu ke dalam Islam itu secara total”, secara utuh, secara seluruhnya, jangan separo-paro, jangan sepotong-sepotong. Mendasari hidup dengan Islam artinya menjadikan Islam sebagai “way of life”, sebagai “rule of thinking”, sebagai “set of mind” di dalam kita memecahkan problema-problema kehidupan. Sehingga tidak suatu persoalan hidup yang bagaimanapun kecilnya sekalipun yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai ajaran Islam ini. Kemudian di dalam mendasarkan hidupnya dengan Islam ia mempunyai keyakinan. Pertama, Islam sebagai dasar hidupnya adalah agama yang sesuai dengan fitrah daripada manusia. Allah SWT pencipta manusia, Allah SWT yang menurunkan agama Islam, oleh sebab itu tentu saja seluruh konsepsi Islam ini sudah diukur sedemikian rupa sesuai dengan kemampuan yang dimiliki oleh manusia. Secra logika bias kita katakan, pabrik mobil di Jerman misalnya bikin mobil yang namanya Mercy, seiring dengan itu dikeluarkannya buku petunjuk, mobil ini bernama Mercy, kecepatan maksimal sekian ratus km/jam, daya angkutnya sekian ratus kilogram,kalau rusak memperbaikinya ini onderdilnya itu, umpamanya. Karena pabriknya yang bikin mobil, lalu pabriknya juga yang mengeluarkan buku petunjuk, tentu buku itu sesuai benar untuk mobilnya. Dan logika mengatakan tidak bisa kita punya mobil Mercy rusak, kita perbaiki dengan buku petunjuk yang dikeluarkan oleh pabrik mobil KIA, tentu saja mobil makin rusak, acak-acakkan dan tidak karu-karuan. Ini artinya jikalau manusia ingin baik, jikalau manusia ingin mencapai sesuatu yang bernama bahagia, dia harus mengikuti petunjuk yang dikeluarkan oleh yang menciptakan manusia tersebut. Dan petunjuk-petunjuk itu telah turun dalam suatu konsepsi yang bernama Islam yang sesuai dengan fitrah manusia.
Yang kedua, oleh karena keyakinannya bahwa Islam sesuai dengan fitrah manusia, iapun bekeyakinan bahwa Islam adalah agama untuk seluruh manusia. Universal, walaupun ia diturunkan di tanah arab, tetapi ia bukanlah agama hanya untuk orang arab semata-mata. Keyakinan ini perlu ditegakkan kembali oleh karena akhir-akhir ini muncul pendapat-pendapat yang menganggap seolah-olah agam itu barang impor. Persilahkan saja karena memang itu keyakinannya, tetapi menganggap agama sebagai barang impor sungguh merupakan suatu kekeliruan yang sangat besar. Bahwa arab sebagian besar memang Islam, jelas. Tetapi Islam bukannya arab itupun harus kita akui! Kita bisa menjadi Muslim yang baik tanpa perlu menjdi orang arab, dengan kata lain kita bisa menjadi Muslim yang baik dengan tetap menjadi warga negara Indonesia yang baik. Bahwa Al-Qur’an diturunkan dalam bahasa arab, oleh karena memang dia turundi tanah arab. Buktinya apa? Walaupun Qur’an dalam bahasa arab, tidak satupun ayat Qur’an yang ditunjukkan kepada orang arab semata-mata. Tidak ada ayat, “Hai orang-orang arab”, tidak ada! Yang ada malah, “Wahai manusia”, manusia yang mana? Yang mana saja asal merasa manusia. Kalau tidak merasa manusia tidak usah merasa terpanggil! Maka dalam mendasari hidup dengan Islam, kita berkeyakinan Islam adalah agama untuk seluruh manusia.
Yang ketiga, di dalam mendasari hidup dengan Islam kita berkeyakinan Islam adalah agama terakhir yang diturunkan kepad Rasul terakhir. Tidak ada Rasul dan Nabi sesudah Muhammad dan tidak ada agama lagi sesudah agama Islam. Dasar-dasar keyakinan ini melembaga dalam pribadi kita membentuk suatu keyakinan yang mendasari kehidupan ini sehingga tidak suatu problema yang bagaimanpun kecilnya dalam kehidupan yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai Islam. Sejak kita tidur sampai kita bangun tidur bahkan tidur itu sendiri dan seluruh kegiatan kehidupan yang kita laksanakan dalam 24 jam, tidak satupun yang tidak tersentuh oleh nilai-nilai Islam. Inilah pandangan hidup Muslim, jawaban seorang Muslim terhadap problema-problema kehidupan yang dihadapinya yang di dalam menjawab problema itu dia Islam oriented. Berorientasi kepada nilai-nilai Islam. Apa kata Islam tentang pekerjaan yang dihadapinya. Halal kata Islam, halal-lah ia katakan, haram kata Islam, haram ia katakan, Islam oriented. Barometer dalam perbuatannya tidak lain daripada nilai-nilai Islam itu sendiri. Dan kemudian di dalam mendasari kehidupan dengan Islam ia berkeyakina Islam adalah satu-satunya agama yang benar, bahasa kerennya “Islam Is The Single One The True Religion Behind The God”.