★★ "KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN & SUNNAH" ★★
Kaum Salafi & Wahabi memiliki motto atau slogan:
* KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNNAH *
* KEMBALI KEPADA AL-QUR'AN DAN SUNNAH *
Mereka mengajak umat untuk kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah.
Kenapa....????
Karena, Al-Qur'an dan Sunnah merupakan sumber ajaran Islam yang utama yang diwariskan oleh Rasulullah Saw.
Sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman.....
Maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan.
Sehingga siapa saja yang menjadikan keduanya sebagai pedoman.....
Maka ia telah berpegang kepada ajaran Islam yang murni dan berarti ia selamat dari kesesatan.
Bukankah Rasulullah Saw. menyuruh yang sedemikian itu kepada umatnya...??!
● Sampai di sini mungkin banyak orang bertanya....
Mengapa Ibnu Taimiyah & Muhammad bin Abdul Wahab yang menyerukan hal se-bagus dan se-ideal itu dianggap sesat oleh para ulama di zamannya dan diazaman sesudahnya...??
Mengapa pula paham Wahabi Salafi yang merujuk semua ajarannya kepada al-Qur'an dan Sunnah dianggap menyimpang bahkan divonis sesat oleh Para Ulama Sezamannya dan Sesudahnya..??!
Ko' Aneh Banget.....!!
Tapi, mari kita perhatikan dan lita kupas permasalahan ini satu demi satu,
Agar terlihat "Sumber Masalahnya".
Agar terlihat "Sumber Masalahnya".
★
1. Prinsip "Kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah"
Adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam.
1. Prinsip "Kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah"
Adalah benar secara teoritis, dan sangat ideal bagi setiap orang yang mengaku beragama Islam.
Tetapi yang harus diperhatikan adalah:
Apa yang benar secara teori belum tentu benar secara prakteknya.
Menimbang kapasitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur'an & Sunnah berbeda-beda.
Maka bisa dipastikan....
Kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur'an dan Sunnah yang dihasilkan oleh seorang 'Alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad....
Akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku "terjemah" al-Qur'an atau Sunnah.
Apa yang benar secara teori belum tentu benar secara prakteknya.
Menimbang kapasitas (kemampuan) tiap orang dalam memahami al-Qur'an & Sunnah berbeda-beda.
Maka bisa dipastikan....
Kesimpulan pemahaman terhadap al-Qur'an dan Sunnah yang dihasilkan oleh seorang 'Alim yang menguasai Bahasa Arab dan segala ilmu yang menyangkut perangkat penafsiran atau ijtihad....
Akan jauh berbeda dengan kesimpulan pemahaman yang dihasilkan oleh orang awam yang mengandalkan buku-buku "terjemah" al-Qur'an atau Sunnah.
Dan dengan Pemikiran yg Pas-pasan, mereka berupaya mengkajinya dengan kemampuan dan kapasitasnya.
Mereka merasa benar dengan caranya sendiri.
Mereka merasa benar dengan caranya sendiri.
Kesalahpahaman terhadap al-Qur'an dan Sunnah itu pun banyak terjadi,
Bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi Perbedaan Pemahaman terhadap Dalil.
Bahkan di kalangan mereka sendiri pun terjadi Perbedaan Pemahaman terhadap Dalil.
Dan yang terbesar adalah kesalah pahaman mereka terhadap dalil-dalil tentang bid'ah.
★
2. Al-Qur'an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama Terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat Mumpuni untuk melakukan hal itu,
Seperti:
~ Ulama mazhab yang empat, (Imam Hanbali, Imam Syafi'i, Imam Maliki, Imam Hanafi)
2. Al-Qur'an dan Sunnah sudah dibahas dan dikaji oleh para ulama Terdahulu yang memiliki keahlian yang sangat Mumpuni untuk melakukan hal itu,
Seperti:
~ Ulama mazhab yang empat, (Imam Hanbali, Imam Syafi'i, Imam Maliki, Imam Hanafi)
~ Para mufassiriin (ulama tafsir),
~ Muhadditsiin (ulama hadis),
~ Fuqahaa' (ulama fiqih),
~ Ulama aqidah ahus-sunnah wal-Jama'ah,
~ Mutashawwifiin (ulama tasawuf/akhlaq).
Hasilnya....
Telah ditulis beribu-ribu jilid Kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur'an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari.
Telah ditulis beribu-ribu jilid Kitab dalam rangka menjelaskan kandungan al-Qur'an dan Sunnah secara gamblang dan terperinci, sebagai wujud kasih sayang mereka terhadap umat yang hidup dikemudian hari.
Karya-karya besar itu merupakan pemahaman para Ulama yang disebut di dalam Al-Qur'an sebagai "ahludz-dzikr",
yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.
yang kemudian disampaikan kepada umat Islam secara turun-temurun dari generasi ke generasi secara berantai sampai saat ini.
● Adalah sebuah keteledoran dan Kebodohan yg amat besar,
Jika orang dalam memahami Islam dengan cara
"Kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah"
Dilakukan tanpa merujuk kepada Pemahaman para Ulama tersebut.
Jika orang dalam memahami Islam dengan cara
"Kembali kepada al-Qur'an dan Sunnah"
Dilakukan tanpa merujuk kepada Pemahaman para Ulama tersebut.
Itulah yang dibudayakan oleh Kaum Wahabi Salafi.
Dan yang menjadi pangkal penyimpangan mereka Sesungguhnya adalah:
Karena mereka memutus Mata Rantai Amanah Keilmuan mayoritas Ulama dengan membatasi Keabsahan Sumber Rujukan Agama hanya sampai pada Ulama (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah),
Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah
(hidup di abad ke-8 H.) dan para pengikutnya.
Dan yang menjadi pangkal penyimpangan mereka Sesungguhnya adalah:
Karena mereka memutus Mata Rantai Amanah Keilmuan mayoritas Ulama dengan membatasi Keabsahan Sumber Rujukan Agama hanya sampai pada Ulama (yang hidup sampai abad ke-3 Hijriah),
Hal ini seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah
(hidup di abad ke-8 H.) dan para pengikutnya.
Bayangkan....
Berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah.
Berapa banyak ulama yang dicampakkan dan berapa banyak kitab-kitab yang dianggap sampah yang ada di antara abad ke-3 hingga abad ke-8 hijriyah.
Lebih parahnya lagi...
Dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabi Salafi dan pengikutnya, seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni.
Padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung
pendapat-pendapat ulama salaf.
Dengan rantai yang terputus jauh, Ibnu Taimiyah dan kaum Wahabi Salafi dan pengikutnya, seolah memproklamirkan diri sebagai pembawa ajaran ulama salaf yang murni.
Padahal yang mereka sampaikan hanyalah pemahaman mereka sendiri setelah merujuk langsung
pendapat-pendapat ulama salaf.
Bukankah yang lebih mengerti tentang pendapat ulama salaf adalah murid-murid mereka..??
Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi,
Dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan..??.
Dan bukankah para murid ulama salaf itu kemudian menyampaikannya kepada murid-murid mereka lagi,
Dan hal itu terus berlanjut secara turun temurun dari generasi ke generasi baik lisan maupun tulisan..??.
Bijaksanakah Ibnu Taimiyah dan pengikutnya, Ketika pemahaman agama dari ulama salaf yang sudah terpelihara dari abad ke abad itu tiba di hadapannya, Lalu mereka campakkan sebagai tanda tidak percaya,
Dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut....!!
Dan mereka lebih memilih untuk memahaminya langsung dari para ulama salaf tersebut....!!
Sungguh, itu keteledoran besar, dan suatu kebodohan.
Kaum Wahabi Salafi bukan Cuma menggaungkan
motto: "Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" secara langsung.
Tetapi juga Berkoar dengan Slogan: "Kembali kepada Pendapat Para Ulama Salaf", secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri.
motto: "Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" secara langsung.
Tetapi juga Berkoar dengan Slogan: "Kembali kepada Pendapat Para Ulama Salaf", secara langsung dengan cara dan pemahaman sendiri.
Mereka bagaikan orang yang ingin menghitung buah di atas pohon yang rindang tanpa memanjat,
Dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.
Dan bagaikan orang yang mengamati matahari atau bulan dari bayangannya di permukaan air.
★
3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang
Al-Qur'an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah "Hasil Jadi".
3. Para ulama telah menghidangkan penjelasan tentang
Al-Qur'an dan Sunnah di dalam kitab-kitab mereka kepada umat sebagai sebuah "Hasil Jadi".
Para ulama bukan saja telah memberi kemudahan kepada umat untuk dapat memahami agama dengan baik tanpa proses pengkajian atau penelitan yang rumit....
Tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap
Al-Qur'an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi.
Tetapi juga telah menyediakan jalan keselamatan bagi umat agar terhindar dari pemahaman yang keliru terhadap
Al-Qur'an dan Sunnah yang sangat mungkin terjadi.
Para Ulama tersebut melakukan pengkajian dengan bekal yang mumpuni seperti yang dimiliki para ulama sebelumnya.
Masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw. & para Shahabat yang tidak mungkin terulang.
Belum lagi keunggulan Hafalan, Penguasaan berbagai bidang ilmu, Lingkungan yang Shaleh, Wara' (kehati-hatian), Keikhlasan, Keberkahan, dan lain sebagainya.
Masa hidup mereka yang masih dekat dengan masa hidup Rasulullah Saw. & para Shahabat yang tidak mungkin terulang.
Belum lagi keunggulan Hafalan, Penguasaan berbagai bidang ilmu, Lingkungan yang Shaleh, Wara' (kehati-hatian), Keikhlasan, Keberkahan, dan lain sebagainya.
Pendek kata, para ulama seakan-akan telah menghidangkan "Makanan Siap Saji" yang siap disantap oleh umat tanpa repot-repot meracik atau memasaknya terlebih dahulu.
Sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang.
Sebab para ulama tahu bahwa kemampuan meracik atau memasak itu tidak dimiliki setiap orang.
Saat kaum Wahabi Salafi mengajak Umat untuk Tidak Menikmati Hidangan para Ulama, dan Mengalihkan Mereka untuk langsung merujuk kepada "Al-Qur'an dan Sunnah".
Dengan Dalih:
"Pemurnian Agama dari Pencemaran "Pendapat"
Manusia (ulama) yang Tidak Memiliki Otoritas untuk Menetapkan Syari'at,
Berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya,
Lalu menyuruhnya menanam padi.
Dengan Dalih:
"Pemurnian Agama dari Pencemaran "Pendapat"
Manusia (ulama) yang Tidak Memiliki Otoritas untuk Menetapkan Syari'at,
Berarti sama saja dengan menyuruh orang lapar untuk membuang hidangan yang siap disantapnya,
Lalu menyuruhnya menanam padi.
Mereka mengelabui umat dengan cara Menyalahkan figur Ulama Mayoritas yang mereka anggap telah
"Mencemarkan Agama"......
Lalu menampilkan dan mempromosikan Segelintir Sosok Ulama Wahabi Salafi beserta karya-karya mereka, serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman
"Al-Qur'an dan Sunnah", dari mereka saja dengan slogan "PEMURNIAN AGAMA".
"Mencemarkan Agama"......
Lalu menampilkan dan mempromosikan Segelintir Sosok Ulama Wahabi Salafi beserta karya-karya mereka, serta mengarahkan umat agar hanya mengambil pemahaman
"Al-Qur'an dan Sunnah", dari mereka saja dengan slogan "PEMURNIAN AGAMA".
Sesungguhnya, "Pencemaran" yang dilakukan para ulama yang shaleh dan ikhlas itu adalah:
Upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan.
Sedangkan "Pemurnian" yang dilakukan oleh kaum Wahabi Salafi adalah:
Penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.
Upaya yang luar biasa untuk melindungi umat dari kesesatan.
Sedangkan "Pemurnian" yang dilakukan oleh kaum Wahabi Salafi adalah:
Penodaan terhadap ijtihad para ulama dan pencemaran terhadap Al-Qur'an dan Sunnah.
Dan pencemaran terbesar yang dilakukan oleh kaum Wahabi Salafi terhadap al-Qur'an dan Sunnah adalah:
Saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur'an dan Sunnah.
Sa'at mereka menyebutkan secara terperinci
amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid'ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw.
Padahal Allah Swt tidak pernah menyebutkannya di dalam Al-Qur'an dan Rasulullah Saw Tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadist)nya.
Saat mereka mengharamkan begitu banyak perkara yang tidak diharamkan oleh al-Qur'an dan Sunnah.
Sa'at mereka menyebutkan secara terperinci
amalan-amalan yang mereka vonis sebagai bid'ah sesat atas nama Allah dan Rasulullah Saw.
Padahal Allah Swt tidak pernah menyebutkannya di dalam Al-Qur'an dan Rasulullah Saw Tidak pernah menyatakannya di dalam Sunnah (hadist)nya.
★
Dari uraian di atas....
Nyatalah bahwa slogan:
"Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" yg mereka
gembar-gemborkan hanya sebuah Teori,
Sebab sa'at dipraktekan, Semuanya Menyimpang dari
Al-Qur'an dan Sunnah".
Dari uraian di atas....
Nyatalah bahwa slogan:
"Kembali kepada Al-Qur'an dan Sunnah" yg mereka
gembar-gemborkan hanya sebuah Teori,
Sebab sa'at dipraktekan, Semuanya Menyimpang dari
Al-Qur'an dan Sunnah".
Dan Para ulama yang telah menulis karya-karya ribuan jilid kitab dan jelas-jelas lebih mengerti tentang Al-Qur'an dan Sunnah itu dituduh oleh kaum Wahabi Salafi sebagai Kumpulan Pendapat manusia yang tidak berdasarkan Dalil.
Sedangkan kaum Wahabi Salafi sendiri yang jelas-jelas hanya memahami dalil secara harfiyah (tekstual)
Dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
Dengan sombongnya menyatakan diri sebagai orang yang paling sejalan dengan Al-Qur'an dan Sunnah.
● Pantaskah memakai Slogan, "Kembali Kepada Al-Qur'an dan Sunnah"..??.
● Pantaskah memakai Motto, "Kembali kepada Pendapat Para Ulama Salaf",...??
Tidak ada komentar:
Posting Komentar